Rinduku Untuk Mama

Featured

Tag

Ketika rindu datang menyapa aku tak dapat mengabaikannya. Rindu itu selalu saja menyesakkan dada. Selalu ingin berada di sampingnya. Selalu ingin memeluknya dengan erat. Selalu ingin mendekapnya. Namun, semua itu tak bisa kulakukan. Karna jarak sedang bertugas memisahkan aku dan mama. Hanya bait-bait doa yang dapat kuhaturkan. Semoga Allah selalu melidungi dan menjaga mama sampai aku kembali pulang.

Ma, hari ini hujan turun sangat deras. Baca lebih lanjut

Sabiyadanazka #bagian 3

Featured

Tag

Azka

“Ada Fika, Bro,” kata Rio sambil memperhatikan Fika yang sedang duduk di bangku depan kelasnya.

“Hmmmh,” jawab Azka singkat sambil meperbaiki senar gitarnya yang mulai kendor. Ke-bete-annya meningkat 80 persen jika sudah berurusan dengan cewek. Ia tahu kedua temannya Rio dan Yogi, masing-masing sudah mempunyai pacar. Walaupun masih banyak yang mengatakan itu cinta moyet dan tak akan abadi.Tapi mereka nggak perduli, yang pasti mereka punya pacar.

“Pantas aja, kau nggak punya pacar, lirik cewek aja ogah-ogahan,” lanjut Yogi.

Azka tidak peduli dengan ejekan teman-temannya. Ia sibuk memperbaiki gitar kesayangannya. Sesekali ia coba memainkannya.

Bila saatnya ku temukan indah di hatimu

Berapa lama waktuku harus menunggu

Cahaya matamu menghiasi seluruh hatiku

Andai kau tau dalam lelap kusebut namamu

Azka sengaja mengalihkan perhatian teman-temannya. Ia melantunkan lagu Hijau Daun yang populer saat itu. Biasanya memang seperti itu. Setiap kali teman-temannya membahas soal cewek ia selalu mengalihkan permbicaraan itu entah dengan cara apapun. Teman-temannya pun mengikuti dan akhirnya bernyanyi bersama. Begitulah kebiasaan mereka hampir setiap hari. Hari-hari mereka penuh dengan tawa. Dan hal itu pula yang membuat mereka dijadikan pusat perhatian di sekolah. Mereka juga sering mengisi acara-acara sekolah dengan ­perfom mereka yang memukau.

Aku masih menunggumu bicara

Kunanti jawaban di hatimu

Dalam gelap ini dalam diam ini

Kuharap nanti waktu yang akan menemukanmu

Apakah nanti hatimu masihkah milikku

Setiap hari, di sekolah atau di rumah gitar selalu menjadi teman baik Azka selain Rio dan Yogi. Baginya sehari tanpa gitar itu seperti sayur tanpa garam. Hambar.

“Eh. Ternyata Fika suka sama kau,” kata Rio suatu sore sambil memberi kode dengan menaik-turunkan alisnya kepada Yogi. Rio dan Yogi mempunyai rencana untuk mengerjai sahabatnya itu.

“Nih,” kata Yogi sambil memberikan selembar kertas dan sebuah pulpen biru pada Azka.

“Buat apaan?,” tanya Azka heran.

“Udah, tulis aja apapun yang aku sebut,” jawab Yogi sambil tersenyum.

“Ogah”. Baca lebih lanjut

Sabiyadanazka #bagian 2

Featured

Tag

“Kamu kenapa, Bi,” tanya Difa dengan penuh kekhawatiran.

Biya sengaja memakai kacamata untuk menutupi matanya yang sembap. Difa sebenarnya ingin mengajak Biya ke toko buku weekend ini. Difa mengurungkan niatnya, sepertinya ini bukan waktu yang tepat mengajak Biya.

“Biya, kenapa?,” Difa bergegas masuk kamar Biya.

Biya menggeleng. Hatinya patah. Cemburu. Kecewa. Di sisi lain, ia tidak seharusnya kecewa, karena mungkin saja Azka tidak mengetahui perasaannya selama ini. “Memang ia nggak tahu”. Selama ini tak seorangpun yang tahu perasaaan Biya pada Azka kecuali Adifa, sahabat Biya.

Difa tak mengulang lagi pertanyaannya ia memeluk Biya erat-erat. “Bi, kamu tenang ya. Apapun masalahmu kita selesaiin bareng-bareng. Yah,”bisik Difa sambil mengusap-usap punggung Biya.

Tangis Biya mereda. Difa melepaskan pelukannya. “Makan bakso yuk!,” ajaknya. Biya hanya diam dan mengikuti ajakan Difa.

Difa dan Biya duduk di kursi paling pojok. Difa sengaja memilih tempat itu agar Biya sedikit lebih tenang. Difa hanya diam dan menikmati jus mangga kesukaannya sambil menunggu bakso pesanannya. Difa sengaja membiarkan Biya berdamai dengan hatinya.

“Azka jadian sama orang lain,” kata Biya.

Baca lebih lanjut

Sabiyadanazka #bagian 1

Namanya Azka

Sabiya

Cowok berkulit sawo matang itu mencuri perhatian Sabiya. Namanya Azka. Orangnya ramah dan suka bergaul, tidak heran kalau ia punya banyak teman. Ia bukan bintang kelas tetapi banyak yang suka padanya. Ia ramah dan baik pada semua orang. Ia punya daya tarik tersendiri di mata para cewek di sekolahnya. Sehingga ia dikagumi.

Bel istirahat pertama berbunyi. Sabiya bernyanyi-nyanyi kecil dengan langkah santai menuju kantin sekolah, tapi langkahnya terhenti karena  melihat Azka dan dua orang temannya asyik bercanda dan bernyanyi sambil bermain gitar di bangku taman depan kelas. Mempergontai langkahnya. Biya suka melihat Azka tertawa lepas seperti itu. “Ah, Azka andai saja kau tertawa bersamaku,” gumam Biya dalam hati.

Biya memang menyukai Azka sejak Masa Orientasi Siswa (MOS). Namun Biya tidak berani menceritakan hal ini pada siapapun.  Ia suka melamun tentang Azka. Membayangkan hari-hari bahagianya bersama Azka.

“Hei, Biya,” katanya Difa sembari menepuk pundak Biya.

“Astaghfirullah,” ucap Biya. Ia kaget dan refleks mencubit lengan Difa.

“Aaaa…wwww,” jerit Difa kesakitan

“Makanya jangan ngagetin,” kata Biya sambil melotot.

“Kamu sih, melamun. Ngelamunin apa sih?,” tanya Difa lagi

“Ayuk ah, ke katin,” ajak Biya dan mengabaikan pertanyaan Difa.

Sambil berjalan ke kantin sesekali Biya melihat Azka yang masih asyik bercanda dengan teman2nya. Biya berharap saat ia melihat ke belakang Azka tak sengaja melihatnya hingga pandangan mereka bertemu meski itu mustahil.

“Ayo, Biyaaaa,” teriak Difa yang sudah mendahului Biya. Biya sengaja berjalan santai dan sangat pelan agar ia bisa mencuri-curi pandang ke Azka Baca lebih lanjut

Sabiyadanazka #cooming soon

Hallo teman-teman 🙂 Apa kabar? 🙂

Udah lama nggak nge-blog nih, belakangan ini banyak banget yang bikin mood nulis aku turun. Terutamaaaaa,,,,, MALAS  *jangan ditiru ya 😦

Tapi,,,,, mulai malam minggu nanti aku akan up date lagi. Aku bakal memuat cerbung setiap minggunya. Judulnya adalaaaaaahhh……… “Sabiyadanazka”Sabiyadanazka_cover

Penasarankan? hehe

Tunggu ya 🙂

Jadi, aku bakal nemanin malam minggu kalian 🙂 Insyaallah ya. Semoga istiqomah akunya,,,hehe

Oh ya,,, jangan lupa tinggalkan jejak dalan kolom komentar ya 🙂

daaah,,, aylafyu 😉

Surat untuk kawanku

index

Gambar: google

Hai, kawan! Apa kabar? Baik-baik saja kah? Kalau aku baik.

Hei, kau ingat tidak? Ini adalah tahun kesembilan kita, yang tak lagi bisa menghabiskan waktu bersama. Tawa dan canda semakin menjauh, seiring jarak dan waktu kurasa masih enggan mendekat.

Heh,,, tapi ya sudahlah. Hari ini aku hanya ingin mengingat kenangan yang pernah kita torehkan kala kanak-kanak dulu. Jangan kau tanya dalam rangka apa aku menuliskan ini. Karena aku sendiri tidak tahu jawabannya. Hari ulang tahunmu sudah berlalu. Hari persahabatan pun bukan hari ini.

Kau ingat tidak? Baca lebih lanjut

Episode yang Tertunda

Salah satu alasan aku tak ingin lagi jadi kekasihmu adalah takut. Aku takut jika kita kita berjalan sudah terlalu jauh, lalu suatu saat kita harus mengakhirinya  secara tiba-tiba, tanpa kau dan aku tau alasannya. Aku takut jika setelahnya akan ada lagi hati yang lain setelah kamu, yang singgah dihatiku. Aku takut pada akhirnya bukan kamu sosok terakhir yang menetap tetap di hatiku jika aku berkukuh dalam hubungan tanpa ikatan itu.

Lagi pula, Baca lebih lanjut

Embun dan Pagi

Aku suka embun. Jika kau tanya kenapa? Aku tidak tahu. Hanya saja aku nyaman melihatnya. Butiran kecil, bening, dan menyejukkan. Damai.
Embun selalu menyambut pagi. Bagi embun, pagi adalah sebuah kebahagiaan. Pun dengan pagi, embun adalah sebuah anugerah yang nyata.
Embun dan pagi bak 2 raga yang menyatu jadi satu. Saling memberi bahagia.

Aku ingin menjadi embun. Memberi nyaman bagi sang Pagi. Semoga.