Sabiyadanazka #bagian 2

Istimewa

Tag

“Kamu kenapa, Bi,” tanya Difa dengan penuh kekhawatiran.

Biya sengaja memakai kacamata untuk menutupi matanya yang sembap. Difa sebenarnya ingin mengajak Biya ke toko buku weekend ini. Difa mengurungkan niatnya, sepertinya ini bukan waktu yang tepat mengajak Biya.

“Biya, kenapa?,” Difa bergegas masuk kamar Biya.

Biya menggeleng. Hatinya patah. Cemburu. Kecewa. Di sisi lain, ia tidak seharusnya kecewa, karena mungkin saja Azka tidak mengetahui perasaannya selama ini. “Memang ia nggak tahu”. Selama ini tak seorangpun yang tahu perasaaan Biya pada Azka kecuali Adifa, sahabat Biya.

Difa tak mengulang lagi pertanyaannya ia memeluk Biya erat-erat. “Bi, kamu tenang ya. Apapun masalahmu kita selesaiin bareng-bareng. Yah,”bisik Difa sambil mengusap-usap punggung Biya.

Tangis Biya mereda. Difa melepaskan pelukannya. “Makan bakso yuk!,” ajaknya. Biya hanya diam dan mengikuti ajakan Difa.

Difa dan Biya duduk di kursi paling pojok. Difa sengaja memilih tempat itu agar Biya sedikit lebih tenang. Difa hanya diam dan menikmati jus mangga kesukaannya sambil menunggu bakso pesanannya. Difa sengaja membiarkan Biya berdamai dengan hatinya.

“Azka jadian sama orang lain,” kata Biya.

Baca lebih lanjut

Sabiyadanazka #bagian 1

Namanya Azka

Sabiya

Cowok berkulit sawo matang itu mencuri perhatian Sabiya. Namanya Azka. Orangnya ramah dan suka bergaul, tidak heran kalau ia punya banyak teman. Ia bukan bintang kelas tetapi banyak yang suka padanya. Ia ramah dan baik pada semua orang. Ia punya daya tarik tersendiri di mata para cewek di sekolahnya. Sehingga ia dikagumi.

Bel istirahat pertama berbunyi. Sabiya bernyanyi-nyanyi kecil dengan langkah santai menuju kantin sekolah, tapi langkahnya terhenti karena  melihat Azka dan dua orang temannya asyik bercanda dan bernyanyi sambil bermain gitar di bangku taman depan kelas. Mempergontai langkahnya. Biya suka melihat Azka tertawa lepas seperti itu. “Ah, Azka andai saja kau tertawa bersamaku,” gumam Biya dalam hati.

Biya memang menyukai Azka sejak Masa Orientasi Siswa (MOS). Namun Biya tidak berani menceritakan hal ini pada siapapun.  Ia suka melamun tentang Azka. Membayangkan hari-hari bahagianya bersama Azka.

“Hei, Biya,” katanya Difa sembari menepuk pundak Biya.

“Astaghfirullah,” ucap Biya. Ia kaget dan refleks mencubit lengan Difa.

“Aaaa…wwww,” jerit Difa kesakitan

“Makanya jangan ngagetin,” kata Biya sambil melotot.

“Kamu sih, melamun. Ngelamunin apa sih?,” tanya Difa lagi

“Ayuk ah, ke katin,” ajak Biya dan mengabaikan pertanyaan Difa.

Sambil berjalan ke kantin sesekali Biya melihat Azka yang masih asyik bercanda dengan teman2nya. Biya berharap saat ia melihat ke belakang Azka tak sengaja melihatnya hingga pandangan mereka bertemu meski itu mustahil.

“Ayo, Biyaaaa,” teriak Difa yang sudah mendahului Biya. Biya sengaja berjalan santai dan sangat pelan agar ia bisa mencuri-curi pandang ke Azka Baca lebih lanjut

Sabiyadanazka #cooming soon

Hallo teman-teman 🙂 Apa kabar? 🙂

Udah lama nggak nge-blog nih, belakangan ini banyak banget yang bikin mood nulis aku turun. Terutamaaaaa,,,,, MALAS  *jangan ditiru ya 😦

Tapi,,,,, mulai malam minggu nanti aku akan up date lagi. Aku bakal memuat cerbung setiap minggunya. Judulnya adalaaaaaahhh……… “Sabiyadanazka”Sabiyadanazka_cover

Penasarankan? hehe

Tunggu ya 🙂

Jadi, aku bakal nemanin malam minggu kalian 🙂 Insyaallah ya. Semoga istiqomah akunya,,,hehe

Oh ya,,, jangan lupa tinggalkan jejak dalan kolom komentar ya 🙂

daaah,,, aylafyu 😉

Surat untuk kawanku

index

Gambar: google

Hai, kawan! Apa kabar? Baik-baik saja kah? Kalau aku baik.

Hei, kau ingat tidak? Ini adalah tahun kesembilan kita, yang tak lagi bisa menghabiskan waktu bersama. Tawa dan canda semakin menjauh, seiring jarak dan waktu kurasa masih enggan mendekat.

Heh,,, tapi ya sudahlah. Hari ini aku hanya ingin mengingat kenangan yang pernah kita torehkan kala kanak-kanak dulu. Jangan kau tanya dalam rangka apa aku menuliskan ini. Karena aku sendiri tidak tahu jawabannya. Hari ulang tahunmu sudah berlalu. Hari persahabatan pun bukan hari ini.

Kau ingat tidak? Baca lebih lanjut

Episode yang Tertunda

Salah satu alasan aku tak ingin lagi jadi kekasihmu adalah takut. Aku takut jika kita kita berjalan sudah terlalu jauh, lalu suatu saat kita harus mengakhirinya  secara tiba-tiba, tanpa kau dan aku tau alasannya. Aku takut jika setelahnya akan ada lagi hati yang lain setelah kamu, yang singgah dihatiku. Aku takut pada akhirnya bukan kamu sosok terakhir yang menetap tetap di hatiku jika aku berkukuh dalam hubungan tanpa ikatan itu.

Lagi pula, Baca lebih lanjut

Embun dan Pagi

Aku suka embun. Jika kau tanya kenapa? Aku tidak tahu. Hanya saja aku nyaman melihatnya. Butiran kecil, bening, dan menyejukkan. Damai.
Embun selalu menyambut pagi. Bagi embun, pagi adalah sebuah kebahagiaan. Pun dengan pagi, embun adalah sebuah anugerah yang nyata.
Embun dan pagi bak 2 raga yang menyatu jadi satu. Saling memberi bahagia.

Aku ingin menjadi embun. Memberi nyaman bagi sang Pagi. Semoga.

Sosok Itu

“ Dira, aku harus pergi,” katanya.

“ Kau mau kemana? Ada apa?”

Aku terkejut. Tiba-tiba ia berkata seperti itu. Entah apa yang ada di benakknya. Entah apa yang ada di benakku. Aku tidak habis pikir. Tidak tahu perasaan apa yang muncul kala itu. Sedih, kecewa, dan takut menjadi satu. Dia adalah sahabatku. Sahabat terbaikku. Sahabat hidupku. Itu semogaku. Walau ia tidak tahu. *Sssttt…. jangan bilang-bilang,, hehe

“ Aku ingin menyelesaikan tugasku sebagai seorang penuntut ilmu,” katanya lagi.

Aku menganggukkan kepala. Sedang ia hanya mampu tersenyum dan berterima kasih atas kebaikan dan pengertianku.

Lalu dia pergi. Tak ada lagi komunikasi diantara kami. Awalnya biasa saja. Aku yakin akan sanggup menjalaninya. Namun, ternyata tidak semudah itu. Aku diterpa kesunyian, kehampaan, dan kebingungan setelah benar-benar jauh darinya. Aku merasakan rindu yang sangat menyesakkan. Aku tidak menginginkan hal ini. Sama sekali tidak. Rindu ini sangat berat. Sungguh. Baca lebih lanjut