Diposkan pada Beranda, My Book

Buku Baru

Judul : Pelukan Kedua untuk Zakia

Penulis : Lasri Maisa

Kategori : Novel

Tebal : v + 125 hlmn. 13 x 19 cm

ISBN : 978-602-6582-70-6

Harga : Rp 34.000,- (belum termasuk ongkir)

————————————-

Blurb.

“Sudah, Kia. Ini sudah terjadi. Lanjutkan membaca “Buku Baru”

Iklan
Diposkan pada Prosa

Rindu Untuk Mama

Ketika rindu datang menyapa aku tak dapat mengabaikannya. Rindu itu selalu saja menyesakkan dada. Selalu ingin berada di sampingnya. Selalu ingin memeluknya dengan erat. Selalu ingin mendekapnya. Namun, semua itu tak bisa kulakukan. Karna jarak sedang bertugas memisahkan aku dan mama. Hanya bait-bait doa yang dapat kuhaturkan. Semoga Allah selalu melidungi dan menjaga mama sampai aku kembali pulang.

Ma, hari ini hujan turun sangat deras. Lanjutkan membaca “Rindu Untuk Mama”

Diposkan pada Prosa

Surat untuk kawanku

index
Gambar: google

Hai, kawan! Apa kabar? Baik-baik saja kah? Kalau aku baik.

Hei, kau ingat tidak? Ini adalah tahun kesembilan kita, yang tak lagi bisa menghabiskan waktu bersama. Tawa dan canda semakin menjauh, seiring jarak dan waktu kurasa masih enggan mendekat.

Heh,,, tapi ya sudahlah. Hari ini aku hanya ingin mengingat kenangan yang pernah kita torehkan kala kanak-kanak dulu. Jangan kau tanya dalam rangka apa aku menuliskan ini. Karena aku sendiri tidak tahu jawabannya. Hari ulang tahunmu sudah berlalu. Hari persahabatan pun bukan hari ini.

Kau ingat tidak? Lanjutkan membaca “Surat untuk kawanku”

Diposkan pada Prosa

Episode yang Tertunda

Salah satu alasan aku tak ingin lagi jadi kekasihmu adalah takut. Aku takut jika kita kita berjalan sudah terlalu jauh, lalu suatu saat kita harus mengakhirinya  secara tiba-tiba, tanpa kau dan aku tau alasannya. Aku takut jika setelahnya akan ada lagi hati yang lain setelah kamu, yang singgah dihatiku. Aku takut pada akhirnya bukan kamu sosok terakhir yang menetap tetap di hatiku jika aku berkukuh dalam hubungan tanpa ikatan itu.

Lagi pula, Lanjutkan membaca “Episode yang Tertunda”

Diposkan pada Prosa

Embun dan Pagi

Aku suka embun. Jika kau tanya kenapa? Aku tidak tahu. Hanya saja aku nyaman melihatnya. Butiran kecil, bening, dan menyejukkan. Damai.
Embun selalu menyambut pagi. Bagi embun, pagi adalah sebuah kebahagiaan. Pun dengan pagi, embun adalah sebuah anugerah yang nyata.
Embun dan pagi bak 2 raga yang menyatu jadi satu. Saling memberi bahagia.

Aku ingin menjadi embun. Memberi nyaman bagi sang Pagi. Semoga.